Hawa Nafsu

Hawa Nafsu terdiri dari dua kata yang berasal dari bahasa Arab. Hawa (الهوى) artinya sangat cinta; kehendak. Dan Nafsu (النفس) artinya jiwa; diri seseorang; kehendak; niat; selera; usaha.

Hawa nafsu itu adalah kecondongan jiwa kepada sesuatu disukai. Jika condongnya kepada sesuatu yang sesuai perintah Allah SWT, maka terpujilah. Namun sebaliknya, jika kecondongannya kepada sesuatu yang bertentangan dengan syari’at islam, maka tercela.

Nafsu

Rasulullah SAW bersabda, Allah SWT berfirman:
"Demi kemuliaanKu, kebesaranKu, keagunganKu, keperkasaanKu, nurKu, ketinggianKu dan ketinggian tempatKu, tak seorang hambapun yang mengutamakan keinginannya (nafsunya) di atas keinginanKu, melainkan Aku kacaukan urusannya, Aku kaburkan dunianya dan Aku sibukkan hatinya dengan dunia serta tidak Aku berikan dunia kecuali yang telah ku takar untuknya.

Demi kemulianKu, kebesaranKu, keagunganKu, keperkasaanKu, nurKu, ketinggianKu dan ketinggian tempatKu, tak seorang hambapun yang mengutamakan keinginanKu di atas keinginan (nafsu) dirinya melainkan Aku suruh malaikat untuk menjaganya, langit dan bumi menjamin rezekinya dan menguntungkan setiap perdagangan yang dilakukannya serta dunia akan datang dan selalu berpihak kepadanya".
Selanjutnya silahkan dibaca dalam Al Qur’an surah An Nisa’ ayat 135, Shad ayat 26, An Najm ayat 3 dan An Nazi’at ayat 40.

Hawa Nafsu terbagi atas 4 bagian yaitu Nafsu lawwamah, Nafsu Amarah, Nafsu birohi, dan Nafsu muthmainnah.

Nafsu amarah, dorongan semangat yang dimiliki setiap menusia yang apabila tidak dikendalikan dapat merugikan diri sendiri dan atau orang lain.

Nafsu Lawwamah, dorongan Kemauan untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kebaikan. Orang yang berada pada tahap nafsu lawwamah ini sudah tau antara perbuatan yang dilarang dan amal kebajikan. Saat jatuh pada kejahatan dia masih merasa puas namun disisi lain ia menyesali perbuatannya itu. Kadang ia berbuat baik dan setelah itu akan kembali melakukan perbuatan dosa lagi.

Nafsu Birohi, Suatu keinginan yang mendorong jiwa manusia untuk berbuat kejahatan dengan tidak memperhatikan halal dan haram baik, aturan pasti (Al Qur'an) dan obyektif (sosial). Nafsu birohi pada manusia dan hewan tedapat sedikit perbedaan. Pada manusia, berahi diketahui lebih banyak dikendalikan oleh kondisi kejiwaan. Sedangkan pada hewan, khususnya berkelamin betina, berahi dikendalikan oleh suatu siklus hormonal (siklus estrus, yang berbeda dengan siklus haid pada manusia).

Nafsu Mutmainnah, nafsu ini memiliki tingkat ketenangan yang tertinggi, tentram, damai, nafsu yang sempurna berada dalam kebenaran dan kebajikan, itulah nafsu yang dipanggil dan dirahmati oleh Allah SWT, Sebagaimana firman-Nya:
Artinya : Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. (QS. Al - Fajr : 27-28).
Dalam ayat lain Allah menghiburnya yaitu :
Artinya : Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. (QS. Asy –Syams : 9).
Seorang hamba yang telah mencapai Nafsu Mutmainnah dapat mengawal Nafsu Syahwatnya dengan baik dan senantiasa cenderung melakukan kebaikan. Dan Juga mereka mudah dan selallu Juhud dan Qonaah dimana segala kesenangan hidup tidak akan membuat dia lupa daratan, menerima anugerah Ilahi seadanya dan kesusahan yang dialaminya tidak menjadikan dirinya gelisah.

Hanya Allah SWT yang maha mengetahui segala sesuatu. Demikian semoga bermanfaat, Amiin....
Blog Sobat
Blog Sobat Facebook : fb.com/adminblogsobat